Remaja di Lambuya Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Kamar, Keluarga Ungkap Kronologi Singkat Harian Populer (HP). : Remaja di Lambuya Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Kamar, Keluarga Ungkap Kronologi Singkat

Berita Terbaru di MEDSOS

Welcome di www.harianpopuler.com Kontributor Liputan Artikel,Berita,Video kirim CP/HP : 0838 4370 0286.
PT.Marketindo Selaras di Laporkan di Kejati Sultra Oleh KeTum HMI MPO Konawe Selatan (Konsel). Dengan Dugaan Penyerobotan Lahan.., Orang Tua Siswa di Kendari Keluhkan Proses Administrasi Sekolah, (Ummussabri). Harap Ada Ruang Dialog. Jadikan Saluran Irigasi Tempat Berwisata : Jadikan Waterbum Saluran Irigasi : Anak-Anak Nikmati Keseruan Bermain Air di Saluran Irigasi Desa Meraka www.harianpopuler.com

Remaja di Lambuya Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Kamar, Keluarga Ungkap Kronologi Singkat

Senin, 23 Februari 2026, Februari 23, 2026

Remaja di Lambuya Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Kamar, Keluarga Ungkap Kronologi Singkat


KONAWE – harianpopuler.com - Seorang remaja laki-laki di Desa Amberi, Kecamatan Lambuya, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumahnya pada Minggu (22/2/2026). Peristiwa tersebut mengejutkan warga sekitar dan kini menjadi perhatian keluarga serta masyarakat setempat.


Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga, korban diduga mengakhiri hidupnya setelah melakukan komunikasi melalui sambungan telepon dan video call dengan seorang perempuan yang disebut sebagai kekasihnya. 


Salah seorang anggota keluarga korban menyampaikan bahwa pada sore hari sekitar pukul 16.00 Wita, korban sempat melakukan video call (VC). Setelah itu, korban disebut masuk ke kamar usai berwudu dan tidak lagi terlihat keluar hingga waktu magrib. Karena merasa curiga, keluarga kemudian mencoba memanggil korban, namun tidak mendapat respons.


“Setelah sore itu dia masuk kamar dan tidak keluar-keluar sampai magrib. Kami mulai khawatir karena biasanya dia keluar untuk berkumpul bersama keluarga,” ujar keluarga korban 

Menurut penuturan keluarga, korban sebelumnya diketahui memiliki hubungan asmara dengan seorang perempuan yang berdomisili di wilayah Lasolo.


 Informasi yang beredar menyebutkan bahwa korban diduga kerap menyampaikan ancaman akan mengakhiri hidupnya apabila hubungan tersebut berakhir, atau putus hubungan. 


Disebutkan juga bahwa perempuan tersebut dalam kondisi takut, terpukul dan menangis saat mengetahui kabar duka tersebut.


Remaja yang diduga berkaitan dengan persoalan pribadi. Sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Lambuya mengimbau warga, khususnya kalangan remaja, untuk lebih terbuka dalam menyampaikan persoalan yang dihadapi kepada keluarga atau pihak yang dipercaya.


“Masalah apa pun sebaiknya dibicarakan bersama keluarga. Jangan dipendam sendiri,” 


Para pemerhati sosial juga mengingatkan pentingnya dukungan emosional dan komunikasi yang sehat dalam hubungan pertemanan maupun percintaan di kalangan remaja. Masa remaja merupakan periode yang rentan secara psikologis, sehingga pendampingan dari keluarga dan lingkungan sekitar dinilai sangat penting.


Pesan Moral dari Peristiwa Ini. 


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dan tekanan emosional perlu mendapatkan perhatian serius. 


Edukasi tentang pengelolaan emosi, komunikasi yang sehat, serta akses terhadap layanan konseling diharapkan dapat diperkuat, terutama di lingkungan sekolah dan komunitas pemuda.

Bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan kepada keluarga, sahabat, tokoh agama, atau tenaga profesional.


 Dukungan dan pendampingan sejak dini dapat membantu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa setiap masalah, terutama dalam hubungan pertemanan atau percintaan, sebaiknya tidak dipendam sendiri. Komunikasi yang terbuka dengan keluarga, sahabat, atau orang yang dipercaya sangat penting untuk mencegah keputusan yang diambil dalam kondisi emosi yang tidak stabil.


Masa remaja adalah fase yang penuh perubahan dan tantangan. Perasaan sedih, kecewa, atau takut kehilangan adalah hal yang wajar. Namun, mengakhiri hidup bukanlah solusi atas persoalan apa pun. Setiap masalah selalu memiliki jalan keluar jika dibicarakan dan dihadapi bersama.


Keluarga dan lingkungan sekitar juga memiliki peran besar untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja, seperti menarik diri, sering melontarkan ancaman menyakiti diri, atau terlihat murung berkepanjangan. Dukungan emosional dan pendampingan yang konsisten dapat menjadi penopang yang sangat berarti.


Jika seseorang merasa tertekan atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan kepada keluarga, tokoh agama, guru, atau tenaga profesional. Meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk menjaga diri.


Pada akhirnya, setiap kehidupan sangat berharga. Menjaga empati, memperkuat komunikasi, dan saling mendukung adalah kunci agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari.

TerPopuler