KENDARI – harianpopuler.com - Kepala SMPN 10 Kendari, Attia Yuliana Djamal, menjelaskan sejumlah hal terkait kunjungan media ke lingkungan sekolah, termasuk permintaan surat tugas bagi awak media yang melakukan peliputan.
Saat ditemui di ruang kepala sekolah, Attia meminta agar awak media memperlihatkan surat tugas. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan surat tugas yang selama ini diterima pihak sekolah.
Ia juga mengatakan, belakangan ini pihak sekolah kerap menerima kunjungan dari media maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Menurut Attia, pihak sekolah sebelumnya telah mendapatkan arahan dari dinas terkait dan Inspektorat mengenai kunjungan pihak luar ke sekolah.
“Kami sudah diwanti-wanti dari awal,” ujar Attia.
Terkait jumlah peserta didik, Attia menyebut SMPN 10 Kendari saat ini memiliki sekitar 500 siswa. Ia menjelaskan, jumlah tersebut dapat berubah karena terdapat siswa yang masuk maupun pindah sekolah.
“Kurang lebih 500 siswa-siswi. Ada yang keluar dan masuk karena pindah. Ada juga siswa yang sudah mulai belajar, tetapi belum masuk dalam Dapodik,” jelasnya.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pihak sekolah menyampaikan bahwa informasi tersebut belum dapat diberikan sebelum adanya arahan dari dinas terkait.
Salah seorang bendahara sekolah yang ditemui di ruang kepala sekolah mengatakan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai penggunaan dana BOS.
“Kami tidak bisa memberikan informasi sebelum ada arahan dari dinas,” ungkapnya.
Kepala sekolah kemudian menambahkan bahwa pihaknya akan menyampaikan informasi apabila sudah mendapatkan arahan dari pihak terkait.
“Saya juga tidak bisa, kecuali mungkin ada dari dinas. Baru bisa kita sampaikan, karena kami juga belum ada konfirmasi tentang itu,” ujarnya.
Attia juga menjelaskan bahwa pihak sekolah dalam menjalankan berbagai kegiatan selalu mengikuti arahan dari pihak yang berwenang.
“Kami berbuat itu memang selalu ada arahan dari atas,” katanya.
Revitalisasi Gedung Sekolah
Mengenai program revitalisasi di SMPN 10 Kendari, Attia menjelaskan bahwa sekolah mendapatkan penanganan terhadap 10 rombongan belajar (rombel). Menurutnya, kondisi bangunan tersebut masuk dalam kategori sekitar 40 persen rusak sedang.
Ia mengatakan, selama proses rehabilitasi berlangsung, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan dengan melakukan pengaturan terhadap ruang kelas.
“Selama gedung direhabilitasi, siswa-siswi tetap belajar di kelas. Kelas tetap belajar pagi,” jelasnya.
Untuk menyesuaikan kondisi ruangan selama proses pekerjaan berlangsung, pihak sekolah melakukan pengaturan dan pembagian kelas.
“Misalnya ada lima kelas, kami jadikan empat kelas,” pungkasnya.
