KENDARI – harianpopuler.com - Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS) menegaskan komitmennya memperkuat transformasi ekonomi petani melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hilirisasi kelapa sawit. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop UMKM Sawit: Menumbuhkan Ekosistem Bisnis Mahasiswa dari Hilirisasi Turunan Kelapa Sawit yang digelar di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Kamis (2/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan nasional SPKS untuk memperluas edukasi mengenai manfaat komoditas perkebunan kepada mahasiswa dan masyarakat. Program tersebut juga bertujuan mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menciptakan nilai tambah dari sektor perkebunan, sejalan dengan misi SPKS dalam memperkuat kapasitas petani, koperasi, dan pengembangan UMKM berbasis produk turunan sawit.
Ketua Umum SPKS, Sabarudin, S.E., M.E., mengatakan masyarakat selama ini lebih mengenal kelapa sawit sebagai penghasil minyak goreng atau komoditas ekspor. Padahal, sawit merupakan komoditas strategis yang mampu menghasilkan ratusan produk turunan bernilai ekonomi tinggi, mulai dari pangan, kosmetik, energi terbarukan, hingga industri kreatif.
"Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap komoditas perkebunan. Sawit bukan hanya berbicara tentang kebun dan panen, tetapi juga inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan masa depan ekonomi masyarakat. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai nilai industri sawit, bukan sekadar pemasok bahan baku," ujar Sabarudin.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar pembangunan sektor perkebunan adalah meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai manfaat strategis komoditas perkebunan. Karena itu, SPKS menggandeng perguruan tinggi sebagai mitra utama dalam menghadirkan ruang edukasi yang menghubungkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan praktik kewirausahaan.
Melalui program Sawit Goes to Campus, SPKS ingin memperkenalkan kepada mahasiswa bahwa sektor perkebunan bukan sekadar sektor primer, melainkan ruang lahirnya inovasi bisnis, pengembangan teknologi, ekonomi kreatif, dan industri hilir yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Mahasiswa adalah agen perubahan. Mereka memiliki kreativitas, kemampuan riset, dan penguasaan teknologi digital. Jika potensi itu dipadukan dengan kekayaan sumber daya perkebunan Indonesia, akan lahir wirausaha muda yang mampu menciptakan produk inovatif sekaligus memperkuat ekonomi petani," katanya.
Mengusung tema "Edukasi Manfaat Komoditas Perkebunan untuk Mahasiswa dan Masyarakat Umum", workshop ini menjadi bagian dari upaya SPKS meningkatkan literasi publik mengenai kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan nasional.
SPKS menilai komoditas perkebunan selama ini lebih sering dipandang dari sisi produksi, padahal setiap komoditas memiliki rantai nilai yang panjang, mulai dari budidaya, pengolahan, logistik, perdagangan, penelitian, hingga pengembangan UMKM. Melalui pendekatan edukatif, SPKS ingin menunjukkan bahwa sektor perkebunan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat koperasi, serta menjadi penggerak ekonomi daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama BPDP dalam mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia.
"Kami tidak hanya membangun kebun sawit yang produktif, tetapi juga membangun manusianya. Mahasiswa dan generasi muda harus dipersiapkan menjadi inovator yang mampu mengembangkan produk turunan sawit melalui teknologi, kreativitas, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara, Ihlas Landu, mengatakan Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri hilir berbasis kelapa sawit. Menurutnya, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibanding hanya mengandalkan produksi tandan buah segar.
"Perkebunan sawit telah memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Tantangan berikutnya adalah membangun industri hilir yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi sehingga manfaat ekonominya semakin besar dirasakan masyarakat," katanya.
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara, La Oge, S.P., M.P., menilai kolaborasi dengan SPKS menjadi langkah penting dalam mendekatkan hasil riset kampus dengan kebutuhan masyarakat.
"Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan untuk mengembangkan produk turunan sawit, meningkatkan nilai tambah komoditas, dan menciptakan peluang usaha baru," ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Bagian Usaha Kecil Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Tenggara, Laode Pali Awaludin, menilai hilirisasi sawit hanya akan berhasil apabila didukung UMKM yang kuat, akses pembiayaan yang memadai, serta kemampuan pelaku usaha membaca peluang pasar.
"Generasi muda harus berani melihat komoditas perkebunan sebagai peluang bisnis. Pemerintah telah membuka ruang melalui berbagai program pembiayaan dan pendampingan. Tinggal bagaimana inovasi dan keberanian berwirausaha terus ditumbuhkan," katanya.
Kepala Bidang Balai POM di Kendari, Syahriani Zain, S.Farm., Apt., turut mengingatkan bahwa produk hasil hilirisasi sawit harus memenuhi aspek keamanan pangan, legalitas, sertifikasi halal, serta didukung kemasan dan strategi pemasaran yang baik agar mampu bersaing di pasar.
Workshop ini menjadi implementasi komitmen SPKS dalam membangun ekosistem bisnis mahasiswa berbasis sawit melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha. Selain menghadirkan diskusi mengenai peluang hilirisasi, peserta juga mengikuti praktik pembuatan produk turunan sawit sebagai bentuk pembelajaran langsung.
Sebagai tindak lanjut, SPKS akan memperluas program Sawit Goes to Campus ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut akan difokuskan pada edukasi manfaat komoditas perkebunan, penguatan koperasi petani, pengembangan inkubasi bisnis mahasiswa, riset terapan, serta pendampingan UMKM berbasis produk turunan sawit.
Bagi SPKS, membangun masa depan industri sawit Indonesia bukan hanya meningkatkan produktivitas kebun, tetapi juga menciptakan generasi muda yang mampu mengubah kekayaan komoditas perkebunan menjadi inovasi, kewirausahaan, dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
