Kabupaten Bandung Barat, - harianpopuler.com - kembali diliputi duka mendalam akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua. Di tengah proses evakuasi korban longsor sebelumnya, musibah susulan dilaporkan terjadi dan diduga menimpa sejumlah personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Sebanyak 23 prajurit dilaporkan hilang dan diduga tertimbun material longsoran saat berada di lokasi bencana.
Peristiwa ini menambah daftar panjang korban akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Hingga kini, upaya pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan, meskipun dihadapkan pada tantangan medan yang berat dan kondisi cuaca yang belum bersahabat.
Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi, Kolonel Inf Mahmuddin, menyampaikan bahwa informasi terkait hilangnya 23 personel TNI tersebut masih dalam proses verifikasi. Menurutnya, situasi di lapangan sangat dinamis dan berisiko tinggi karena curah hujan yang masih terus mengguyur kawasan Cisarua. Kondisi tersebut menyebabkan struktur tanah menjadi labil dan rawan terjadi pergerakan tanah susulan.
“Proses pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati. Keselamatan seluruh personel tetap menjadi prioritas utama,” ujar Kolonel Mahmuddin dalam keterangannya kepada media. Ia menambahkan bahwa penggunaan alat berat belum dapat dioptimalkan sepenuhnya karena potensi longsor lanjutan masih cukup besar dan dapat membahayakan petugas di lapangan.
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) saat ini melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, serta masyarakat setempat. Fokus utama tim SAR terbagi pada dua sasaran, yakni pencarian warga sipil yang masih dilaporkan hilang serta penelusuran keberadaan 23 prajurit TNI AD yang diduga tertimbun longsoran.
Berdasarkan data sementara, jumlah warga yang dilaporkan hilang akibat bencana longsor di wilayah tersebut mencapai 83 orang. Angka ini masih bersifat dinamis dan dapat berubah seiring dengan proses pendataan serta evakuasi yang terus berlangsung. Tim SAR terus melakukan penyisiran di titik-titik rawan dengan mengutamakan metode manual untuk meminimalkan risiko.
Bencana longsor yang terjadi di Cisarua diduga dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang berlangsung dalam durasi cukup lama. Kondisi geografis wilayah yang berbukit dan memiliki kemiringan curam turut memperbesar potensi terjadinya pergerakan tanah. Sejumlah pakar kebencanaan sebelumnya telah mengingatkan bahwa kawasan tersebut termasuk dalam zona rawan longsor, terutama saat musim hujan.
Insiden yang menimpa aparat di lokasi bencana ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para petugas di garis depan. Dalam situasi darurat, mereka dituntut untuk bergerak cepat demi menyelamatkan warga terdampak, meskipun harus berhadapan dengan ancaman keselamatan diri sendiri.
Pihak Kodam III/Siliwangi menyatakan akan terus berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait guna memastikan proses pencarian berjalan optimal. Selain itu, evaluasi kondisi lapangan dilakukan secara berkala untuk menentukan langkah-langkah lanjutan yang paling aman dan efektif.
Sementara itu, pemerintah daerah setempat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Warga yang tinggal di sekitar lereng dan daerah rawan longsor diminta untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung. Seluruh pihak berharap para korban dapat segera ditemukan dan situasi di lokasi bencana dapat segera terkendali, meskipun tantangan di lapangan masih cukup berat.
