Puskesmas Puuwatu Edukasi Pencegahan DBD kepada Warga Sekolah SDN 34 dan SDN 18 Kendari Harian Populer (HP). : Puskesmas Puuwatu Edukasi Pencegahan DBD kepada Warga Sekolah SDN 34 dan SDN 18 Kendari

Berita Terbaru di MEDSOS

Welcome di www.harianpopuler.com Kontributor Liputan Artikel,Berita,Video kirim CP/HP : 0838 4370 0286.
PT.Marketindo Selaras di Laporkan di Kejati Sultra Oleh KeTum HMI MPO Konawe Selatan (Konsel). Dengan Dugaan Penyerobotan Lahan.., Orang Tua Siswa di Kendari Keluhkan Proses Administrasi Sekolah, (Ummussabri). Harap Ada Ruang Dialog. Jadikan Saluran Irigasi Tempat Berwisata : Jadikan Waterbum Saluran Irigasi : Anak-Anak Nikmati Keseruan Bermain Air di Saluran Irigasi Desa Meraka www.harianpopuler.com

Puskesmas Puuwatu Edukasi Pencegahan DBD kepada Warga Sekolah SDN 34 dan SDN 18 Kendari

Jumat, 30 Januari 2026, Januari 30, 2026


Kendari, - harianpopuler.com – Upaya pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) terus digencarkan melalui edukasi langsung kepada masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satu langkah tersebut dilakukan oleh Tim Puskesmas Puuwatu dengan menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan di lingkungan SDN 34 dan SDN 18 Kendari pada Jumat, 30 Januari 2026.


Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari siswa, guru, serta tenaga kependidikan. Penyuluhan difokuskan pada peningkatan pemahaman mengenai bahaya penyakit DBD, cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.


Dalam pemaparannya, petugas kesehatan menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini umumnya berkembang biak di tempat-tempat penampungan air bersih yang tidak tertutup, seperti bak mandi, ember, drum, pot bunga, hingga barang bekas yang dapat menampung air hujan.


Karena itu, pencegahan paling efektif adalah dengan memutus rantai perkembangbiakan nyamuk. Tim Puskesmas Puuwatu menekankan pentingnya penerapan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Adapun “Plus” mencakup berbagai langkah tambahan seperti menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.


Penyuluhan dilakukan secara interaktif agar materi mudah dipahami oleh para siswa. Petugas kesehatan menggunakan bahasa sederhana dan contoh-contoh nyata di sekitar lingkungan sekolah, sehingga peserta dapat langsung mengenali potensi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, para siswa juga diajak untuk berperan aktif sebagai pengingat bagi keluarga di rumah agar rutin melakukan pembersihan lingkungan.


Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan aman. Edukasi sejak usia dini dianggap penting agar kesadaran hidup bersih dan sehat dapat tertanam kuat pada anak-anak.


Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menghadapi potensi peningkatan kasus DBD pada musim hujan. Pada periode tersebut, genangan air lebih mudah terbentuk sehingga risiko perkembangbiakan nyamuk meningkat.


Selain penyampaian materi, kegiatan turut diisi dengan ajakan kerja sama antara pihak sekolah dan tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan rutin kebersihan lingkungan. Guru dan siswa diharapkan dapat membentuk kebiasaan memeriksa dan membersihkan area kelas, halaman, serta saluran air secara berkala.


Tim Puskesmas Puuwatu menilai keterlibatan komunitas sekolah sangat penting karena anak-anak dapat menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan pemahaman yang baik, mereka diharapkan mampu menyampaikan kembali informasi pencegahan DBD kepada keluarga dan masyarakat sekitar.


Upaya edukasi seperti ini diharapkan mampu menekan angka kasus DBD melalui pendekatan kesadaran kolektif, bukan hanya mengandalkan penanganan saat sudah terjadi kasus. Pencegahan berbasis perilaku dinilai lebih berkelanjutan karena menyasar sumber masalah sejak awal.


Melalui kegiatan penyuluhan ini, masyarakat sekolah diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan DBD merupakan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang bersih dan bebas genangan air menjadi kunci utama untuk melindungi anak-anak dari ancaman penyakit yang setiap tahun masih menjadi perhatian di berbagai daerah.


Dengan sinergi antara tenaga kesehatan, pihak sekolah, dan partisipasi aktif warga, langkah-langkah sederhana seperti rutin membersihkan tempat penampungan air dapat memberikan dampak besar dalam menjaga kesehatan lingkungan. Edukasi berkelanjutan menjadi fondasi penting agar upaya pencegahan tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi budaya hidup sehari-hari.

TerPopuler