KONAWE, – HARIANPOPULER.COM — Guru berinisial W.A yang bertugas di SMAN 1 Puriala, yang kini berganti nomenklatur menjadi SMAN 12 Konawe, akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait insiden sorakan dan aksi penolakan sejumlah siswa terhadap dirinya di lingkungan sekolah pada Senin (2/11/2026).
Saat ditemui awak media, W.A menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi, termasuk sikap dan perkataannya ketika menghadapi situasi yang memanas di lingkungan sekolah.
Dalam keterangannya, W.A mengungkapkan bahwa sebelum kejadian tersebut, dirinya telah menerima sejumlah informasi dari siswa mengenai rencana aksi penolakan terhadap dirinya yang disebut akan berlangsung pada Senin, 2 November 2026.
Merasa khawatir dengan informasi tersebut, pada Minggu (1/11/2026), ia mengaku telah menghubungi kepala sekolah untuk mengonfirmasi sekaligus menyampaikan informasi yang diterimanya dari para siswa.
Bahkan, W.A mengaku telah mengirimkan sejumlah bukti percakapan terkait laporan siswa mengenai rencana aksi tersebut. Namun, menurut pengakuannya, pesan yang disampaikan belum mendapatkan tanggapan sebagaimana yang diharapkannya.
Pada hari yang sama, ia kembali menghubungi kepala sekolah dan menawarkan untuk datang ke rumah guna membicarakan persoalan tersebut secara lebih leluasa karena merasa khawatir dengan situasi yang mungkin terjadi.
Namun, kepala sekolah disebut menyarankan agar dirinya datang pada Senin pagi ke sekolah. W.A mengaku mendapat jaminan bahwa tidak akan ada siswa yang mengganggunya dan ia dapat bertemu di ruangan kepala sekolah.
Berpegang pada komunikasi tersebut, W.A mengaku masih berpikir positif dan berharap ada langkah antisipasi dari pihak sekolah agar informasi mengenai rencana aksi penolakan itu tidak berujung pada kejadian yang tidak diinginkan.
Kronologi Insiden di Lingkungan Sekolah
W.A menuturkan, dirinya tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 WITA. Sebelum menemui kepala sekolah, ia sempat berbincang dengan dua orang guru lainnya, kemudian masuk ke ruangan kepala sekolah.
Menurut keterangannya, belum genap 10 menit mereka berbincang, kepala sekolah tiba-tiba berdiri dan meminta dirinya jangan keluar dari ruangan, sementara ia diminta menunggu di tempat tersebut.
Tidak lama kemudian, W.A mendengar suara benda yang dilempar ke bagian atap sekolah disertai teriakan sejumlah siswa. Merasa terkejut, ia kemudian melihat situasi di luar ruangan dan mendapati sejumlah siswa sedang berteriak.
"Saya bertanya, ada apa dan kenapa? Siapa yang menyuruh kalian?" ungkap W.A menceritakan kembali kejadian tersebut.
Ia juga mengaku sempat menyarankan kepada salah seorang siswa agar menyampaikan aspirasi melalui surat resmi kepada kepala sekolah. Namun, siswa tersebut menjawab bahwa surat sudah disampaikan.
Mendengar jawaban tersebut, W.A mengaku kecewa dan emosinya terpancing, terlebih ketika mendengar sejumlah perkataan siswa yang menurutnya tidak sopan serta melihat dirinya direkam menggunakan telepon genggam.
Dalam kondisi tersebut, ia mengakui sempat melontarkan pernyataan akan menuntut para siswa.
W.A juga mengungkapkan kekecewaannya karena merasa tidak ada guru yang keluar untuk membantu meredakan situasi. Bahkan, menurut pengamatannya, beberapa guru justru merekam kejadian tersebut.
Ia kemudian menuju ruang guru dan mempertanyakan siapa yang mengarahkan para siswa melakukan aksi tersebut. Namun, salah seorang guru disebut menjawab tidak mengetahui siapa yang mengarahkan aksi itu.
W.A mengakui kembali melontarkan pernyataan akan menuntut. Namun, ia menegaskan bahwa perkataan tersebut muncul dalam kondisi emosional, lantaran merasa kecewa, sedih, dan tidak mendapatkan dukungan ketika situasi sedang memanas.
Sampaikan Permohonan Maaf dan Harapan Edukasi
Di akhir keterangannya, W.A menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak, khususnya para siswa, atas tindakan maupun perkataannya yang dinilai tidak tepat dalam menyikapi situasi tersebut.
Ia berharap semua pihak dapat membuka ruang saling memaafkan dan menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama.
"Semoga dibukakan pintu maaf atas tindakan saya yang salah dalam menyikapi situasi tersebut. Saya juga manusia biasa yang bisa merasa sedih. Bagaimanapun juga, saya sudah lima tahun menjadi bagian dari keluarga besar sekolah tersebut," tuturnya.
W.A berharap persoalan ini tidak semakin memperkeruh hubungan antara guru, siswa, dan pihak sekolah.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedewasaan, etika, dan penghargaan terhadap sesama.
Aspirasi siswa merupakan bagian dari dinamika pendidikan yang perlu dihargai dan diberikan ruang penyaluran. Namun, penyampaiannya tetap harus mengedepankan etika, kesantunan, serta mekanisme yang berlaku.
Sebaliknya, guru dan pihak sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan keteladanan, komunikasi terbuka, perlindungan terhadap seluruh warga sekolah, serta penyelesaian persoalan secara bijaksana.
Dengan demikian, setiap persoalan di lingkungan pendidikan hendaknya diselesaikan melalui dialog dan pendekatan yang mendidik, bukan dengan saling memperkeruh keadaan. Tutupnya.
(*)
