Jakarta - Gelombang kekecewaan rakyat terhadap sejumlah anggota DPR-RI akhirnya berujung pada keputusan resmi penonaktifan empat nama publik figur yang kini berstatus legislator. Mereka adalah Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Uya Kuya, dan Eko Patrio.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya kritik dan protes masyarakat yang menilai para anggota dewan tersebut telah menyakiti hati rakyat, mencederai aspirasi rakyat. Sikap dan kebijakan yang diambil dinilai tidak mencerminkan amanah yang telah dipercayakan, bahkan dianggap melukai kepercayaan masyarakat yang sebelumnya memberikan mandat melalui pemilu.
“Rakyat sudah muak dengan ulah Pak Dewan dan Ibu Dewan yang lebih mementingkan kepentingan pribadi ketimbang rakyat. Penonaktifan ini harus menjadi pembelajaran bagi siapa pun yang duduk di kursi parlemen,”
Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal tegas bahwa lembaga DPR tidak bisa lagi mentoleransi tindakan yang dinilai keluar dari jalur amanah rakyat. Aspirasi publik harus tetap menjadi pegangan utama, bukan sekadar retorika politik.
Kepentingan rakyat di atas segalanya
Kalau sudah begini, rakyat pun kompak: “Pak Dewan, Bu Dewan, kursi itu bukan buat pamer gaya, tapi buat kerja nyata!”
Jangan sibuk drama, lupa fakta.
Ingat, amanah itu bukan buat koleksi,
Mungkin kalau sudah begini, para politisi perlu baca ulang pepatah: “Jangan sombong saat di atas, sebab rakyatlah yang bisa bikin jatuh dalam sekejap.”
Pantun Dari Inody.
Pantun 1
Jalan-jalan ke pasar Minggu,
Beli bawang sama cabai rawit.
Pak Dewan janji manis dulu,
Pas duduk kursi malah bikin sakit.
Pantun 2
Pagi hari minum kopi,
Ditambah gorengan biar kenyang.
Kalau jadi wakil rakyat sejati,
Kerja serius jangan cuma senang-senang.
Pantun 3
Burung nuri hinggap di dahan,
Suaranya ramai bikin riuh.
Kalau Dewan lupa amanah,
Rakyat marah, kursi pun hilang sudah.
Pantun 4
Ke Kendari beli rambutan,
Sekalian mampir beli duku.
Kalau aspirasi rakyat dilupakan,
Siap-siap Dewan kena “tendang” keluar pintu.
