Hutan Jompi di Ambang Krisis, Debit Air Terus Menyusut
MUNA – harianpopuler.com - Kawasan Hutan Jompi di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menghadapi tekanan serius. Hutan yang berstatus Hutan Lindung (HL) dengan luas sekitar 1.927 hektare itu kini tidak lagi berada dalam kondisi ideal. Sebanyak 56,1 persen wilayahnya dilaporkan mengalami kerusakan, terutama pada ekosistem hutan jati yang selama ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sabtu, 4/4/2026
Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak pada tutupan hutan, tetapi juga berimbas langsung pada ketersediaan air bagi masyarakat. Debit mata air Jompi yang pada era 1980-an mencapai sekitar 300 liter per detik, menyusut drastis menjadi sekitar 120 liter per detik pada 2017. Penurunan ini diperparah oleh sedimentasi akibat banjir kiriman yang terus mengurangi daya dukung kawasan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak lebih besar. Dalam beberapa dekade ke depan, mata air Jompi dikhawatirkan bisa menghilang. Situasi tersebut tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, muncul usulan peningkatan status kawasan dari Hutan Lindung menjadi Kawasan Hutan Konservasi dengan skema Taman Wisata Alam (TWA). Usulan yang disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI, Jailani, M.Si, itu dinilai dapat memperkuat perlindungan sekaligus membuka peluang pengelolaan yang lebih berkelanjutan.
Namun demikian, pegiat lingkungan Hasrudin Hayat, S.Hut, menilai perubahan status saja belum cukup tanpa diikuti langkah konkret di lapangan. Ia menekankan pentingnya aksi nyata untuk memulihkan kondisi hutan.
Sebagai bentuk upaya tersebut, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sangia Lestari mencanangkan gerakan penanaman 2.000 pohon di sekitar kawasan Hutan Jompi. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memulihkan ekosistem hutan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.
“Tidak ada alasan untuk diam. Generasi muda harus ambil bagian. Kita mulai dari langkah sederhana, menanam pohon untuk masa depan,” ujar Hasrudin.
Gerakan ini dirancang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat, serta masyarakat sekitar kawasan hutan. Keterlibatan masyarakat dinilai krusial, tidak hanya dalam menjaga kelestarian, tetapi juga untuk memahami potensi ekonomi berkelanjutan dari jasa lingkungan yang dihasilkan hutan.
Kondisi Hutan Jompi saat ini menjadi peringatan bagi semua pihak. Tanpa upaya penyelamatan yang serius, krisis yang terjadi hari ini berpotensi menjadi bencana di masa depan. Sebaliknya, kolaborasi yang kuat masih membuka peluang untuk menyelamatkan sumber air dan kehidupan yang bergantung padanya.
